Footytube.com - Latest Football Video Highlights Headline Animator

Footytube.com - Latest Football Video Highlights


Kamis, 26 Februari 2009

Pagerkukuh Tebing yang longsor ketika hujan deras

kampung halamanku terkena longsor



WONOSOBO – Warga RT 2 RW VIII Dusun Kemiri Kelurahan Pagerkukuh, Wonosobo Jumat pagi (20/2) mengadakan kerjabakti di rumah Ny. Partono dan Rahmat yang terkena longsor. Kayu dan perabotan yang berserakan dibenahi. Tanah bekas bangunan rumah diratakan. Sejak pukul 07.00 puluhan warga sudah berdatangan bergotong-royong meratakan tanah. “Kami mengusulkan nantinya ada bantuan rehab rumah dari pemerintah,”ujar Lurah Pagerkukuh Suhardi yang ikut memantau kerja bakti bersama kasi trantip kelurahan setempat.

Rumah Ny. Partono dan Rahmat berada di bawah rumah Bagio dan berada persis di bibir aliran Sungai Semagung. Kondisi rumah Bagio ini juga mengkhawatirkan, berada di tebing yang sebagian tanahnya sudah ambrol. Bahkan kolam ikan yang berada di belakang rumahnya pun sudah longsor. Menurut Hardi, tempat tinggal Bagyo bakal direlokasi ke tempat yang lebih aman tak jauh dari rumahnya sekarang. Diperkirakan seluruh kerugian baik rumah maupun kolam yang rusak mencapai Rp 37 juta.



Mbok Partono yang rumahnya hancur mengaku bersyukur lolos dari maut. “Sore kemarin saya di rumah cucu. Mau pulang rasanya kok malas. Ternyata malah terjadi musibah. Cucu saya, Wawan, barusan keluar rumah. Sampai di halaman tiba-tiba tanah ambrol. Air mengalir deras. Lalu dia memberitahu saya,”jelasnya terbata-bata.

Ketika Mbok Partono pulang, warga sudah berkumpul di lokasi. Selain perabotan rumah dan pakaian, tidak ada uang atau perhiasan yang tertimbun. Hanya 8 ekor ayam mati. Hal sama dialami Rahmat, 35, yang rumahnya persis di depan rumah Mbok Partono. Rahmat bersama keluarganya sedang berada di rumah mendadak terdengar suara keras. Ia lari keluar menyelamatkan diri.

“Istri saya menyambar anak-anak lalu lari keluar. Air bercampur lumpur masuk ke dalam rumah. Ngeri sekali, tapi masih untung kami selamat. Hanya rumah bagian dapur yang rusak dan kolam ikan tertimbun tanah,”paparnya.

Tebing setinggi sekitar 12 meter tersebut sebelumnya pernah longsor 2 kali. Kini kejadian tersebut terulang lagi. “Dulu rumah saya juga terkena longsoran. Tapi yang paling parah kejadian sekarang ini,”tambah Mbok Partono sambil menunjukkan tebing bekas longsor.

Kedua korban sehari-hari adalah buruh. Kondisi rumahnya semipermanen dan sangat sederhana. Sampai saat ini, Mbok Partono mengungsi di rumah cucunya, Mulyati, sedangkan Rahmat di rumah orang tuanya.

“Rasanya masih takut kalau terjadi longsor lagi,”akunya.

Seperti diberitakan, hujan deras Kamis kemarin menyebabkan longsor tebing di Dusun Kemiri. Rumah Ny. Partono hancur, sementara rumah Rahmat hanya rusak bagian dapur. Rumah keduanya terkena longsoran tebing dan kolam ikan milik Bagio. (lis)


Selengkapnya...

SMP 1 RSBI Pertama di Wonosobo

SMP 1



SMP 1 Wonosobo merupakan sekolah pertama di daerah pegunungan tersebut yang akan melaksanakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Sekolah favorit itu menerapkan RSBI pada tahun...



SMP 1 Wonosobo merupakan sekolah pertama di daerah pegunungan tersebut yang akan melaksanakan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI). Sekolah favorit itu menerapkan RSBI pada tahun ajaran 2009/2010. Pada tahun ajaran mendatang, SMP 1 berencana menerima siswa baru untuk tiga kelas RSBI. Kesiapan SMP 1 untuk melaksanakan RSBI, terungkap dalam acara sosialisasi RSBI, di pendopo kabupaten. Sosialisasi dibuka Bupati Wonosobo Drs HA Kholiq Arif MSi, Sabtu (21/2) lalu.

Sosialisasi dihadiri konsultan RSBI Dr Kir Haryono, Wakil Bupati Drs H Muntohar MM, Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olah raga H Priyo Purwanto SSos MSi, Ketua Dewan Pendidikan H Slamet RB, para kepala sekolah, komite sekolah dan lainnya.

Bupati Kholiq Arif mengatakan, Pemkab selalu mendorong segala upaya peningkatan pendidikansecara kualitas maupun kuantitas. Untuk kuantitas, diharapkan Mei 2009, angka keaksaraan tambahan bagi 4.000 warga belajar sudah teratasi.

Adapun angka partisipasi murni (APM) maupun angka partisipasi kasar (APK) Wajardikdas, secara kuantitas terus bertambah. Pada 17 Agustus 2009, hal itu sudah bisa tercapai 95 persen lebih.

Dalam kaitan APM/APK, siapa pun jangan memanipulasi angka. Saya tidak mau manipulasi terjadi," tandas Bupati.

Mengenai wilayah-wilayah marginal, sekolah satu atap terus dikembangkan, di masing-masing kecamatan. Sehingga semua anak bisa terwadahi. Diharapkan juga dilaksanakan sistem pembelajaran secara tepat.

Konsultan RSBI Dr Kir Haryono menyebut, untuk terwujudnya RSBI sangat diperlukan adanya komitmen Pemkab. Meski nantinya terealisasi adanya sekolah bertaraf internasional, tetapi hendaknya jangan sampaimeninggalkan jati diri dan kepribadian.

Dia menilai, kelemahan yang acapkali terjadi pada RSBI adalah masih banyak guru yang tidak mampu komputer. Sehubungan dengan itu, pada saat rekruitmen mendatang, maka guru juga harus menguasai komputer dan bahasa Inggris.

Berkait dengan penerimaan siswa di RSBI, Kir Haryono mengingatkan agar bahasa Inggris dan komputer jangan menjadi penentu atau mematikan anak untuk diterima. Karena belum semua SD sudah mengenalkan komputer maupun bahasa Inggris.

Menurut konsultan, RSBI pada saatnya -setelah tiga tahun, harus sudah menjadi mandiri. Pada saatnya kelak, semua kelas di sekolah bertaraf internasional, tidak ada lagi kelas reguler. Tetapi semua harus sudah kelas SBI.

Kepala SMP 1 Wonosobo, Drs Agus Hidayat MPd mengatakan, peringkat sekolah yang dikelolanya dalam tiga tahun terakhir ini terus meningkat. Pada tahun 2005/2006, SMP 1 menempati peringkat 108 sekolah negeri. Tahun 2006/2007, meningkat tajam menjadi 40. Tahun 2007/2008, naik lagi menjadi peringkat 30. Demikian pula dengan nilai ujian nasional (UN). Tahun 2005/2006, rata-rata nilai UN siswa SMP 1 mencapai 8,34. Tahun 2006/2007 meningkat menjadi 8,62. Tahun 2007/2008 rata-rata nilai UN 8,03.

Agus menyebut, sejak dua tahun lalu, SMP 1 menerapkan kelas bilingual. Saat ini yang menerapkan bilingual adalah kelas VII (dua kelas) dan kelas VIII (satu kelas).Keterangan lain menyebutkan, dengan menerapkan RSBI, maka lokasi SMP 1 Wonosobo yang saat ini tersebar di Jalan Pemuda dan Jalan RSU, akan disatukan dan dipindah ke areal yang lebih luas, yaitu di lapangan bekas pasar penampungan, di Jalan Jolontoro. (SM)

Sumber Berita:Wonosobo Cyber Community


Selengkapnya...

SalakWonosobo Biar Laku, Dompleng Nama Daerah Lain

Salak Pondoh


Kendati wilayah Wonosobo merupakan salah satu sentra salak, di pasar nasional masih kalah dengan Sleman atau Banjarnegara. Di pasaran nasional salak Wonosobo mendompleng nama dua daerah tersebut. Padahal selama ini, Sleman kerap disuplai salak dari Wonosobo. “Tapi dalam merek dagangnya diharuskan menggunakan nama salak Sleman. Nama Wonosobo belum laku dijual di pasaran buah nasional,”ungkap petani salak Kecamatan Sukoharjo, Wahyu belum lama ini.



Karena itu, untuk mendapatkan sertifikasi salak Wonosobo berbagai terobosan telah dilakukan. Antara lain menurut Kepala Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Sukoharjo, Sunarto dengan merintis kerjasama dengan UPN Veteran Jogjakarta dan BPTP Jogjakarta sejak tahun 2004 lalu. “Kami berharap melalui kerjasama dengan perguruan tinggi dilakukan penelitian dan budidaya jenis salak khas Wonosobo,”ujarnya. Hal itu dikemukakan ketika menerima kunjungan monitoring program usaha agrobisnis pedesaan (PUAP) yang dipimpin Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Kabupaten Wonosobo, Suharso.

Dana hibah PUAP berasal dari Departemen Pertanian sebesar Rp 3,8 miliar dialokasikan untuk 38 desa yang dikelola gabungan kelompok tani di Wonosobo pada November 2008 kemarin. Masing-masing desa menerima Rp 100 juta. Monitoring dilakukan untuk melihat sejauh mana penggunaan dana PUAP di masing-masing gapoktan melalui lembaga keuangan mikro yang dibentuk pada rapat anggota gapoktan.

Di samping dikemukakan soal penggunaan dana PUAP, pada kesempatan itu, petani juga mengungkapkan permasalahan yang dialaminya.

Termasuk soal salak Sukoharjo yang dijual harus menggunakan nama daerah lain. Di Kecamatan Sukoharjo, dana PUAP dimanfaatkan petani salak dalam bentuk pinjaman lunak untuk pembelian pupuk seperti yang dikelola LKM Sido Makmur Desa Plodongan.

Menurut Kades Plodongan, Yulianto, petani salak sangat terbantu dengan adanya dana PUAP yang dimanfaatkan simpan pinjam. Di samping bunga pinjaman lebih ringan karena ditentukan dalam rapat anggota, lokasi pelayanan pinjaman di kantor desa sehingga mudah diakses.

Pengelolaan dana PUAP di Plodongan ditentukan pinjaman maksimal Rp 2 juta dengan jasa 1,5 persen. Dalam pembagian sisa hasil usaha, dari persentase 1,5 persen itu, sebanyak 1,2 persen untuk gapoktan, dan 0,3 persen dikembalikan pada petani.

“Dengan model pembagian SHU seperti itu, petani terpacu untuk disiplin dalam pengembalian pinjaman. Setidaknya sampai bulan Februari belum ada tunggakan,”paparnya.

Sedangkan dana PUAP di Desa Sempol dikelola oleh LKM Bina Tani. Sebagian besar dana ini digunakan sistem tanggung renteng. Dengan model seperti ini peminjam akan malu jika tidak membayar angsuran. Pasalnya jika mangkir mengangsur, seluruh anggota kelompok yang menanggung.

Sementara di Kelurahan Leksono dana PUAP yang dikelola LKM Dewi Sri selama dua bulan modal pimjaman telah bertambah Rp 2,198 juta. (RaSe)

Nara sumber: Wonosobo Cyber Cummunity

Selengkapnya...

PPTKI Jangan Membodohi Masyarakat

Lagi-Lagi PPTKI

Wakil Bupati Wonosobo, Drs H Muntohar MM minta agar pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia (PPTKI) jangan membodohi masyarakat ataupun calon tenaga kerja. "Jika ada calon TKI tidak memenuhi syarat, jangan dipaksakan. Misalnya, calon TKI belum mendapat ijin dari suami maupun keluarga, jangan dipaksakan," tandas H Muntohar ketika membuka...



Wakil Bupati Wonosobo, Drs H Muntohar MM minta agar pelaksana penempatan tenaga kerja Indonesia (PPTKI) jangan membodohi masyarakat ataupun calon tenaga kerja. "Jika ada calon TKI tidak memenuhi syarat, jangan dipaksakan. Misalnya, calon TKI belum mendapat ijin dari suami maupun keluarga, jangan dipaksakan," tandas H Muntohar ketika membuka Penyuluhan hukum pelaksana penempatan dan perlindungan TKI luar negeri, Selasa kemarin.

Penyuluhan diikuti PPTKI swasta di eks Karesidenaqn Kedu, di gedung pertemuan BLK Disnakertrans Wonosobo. Kegiatan tersebut diselenggarakan bersama oleh BP3TKI, DPD Ajaspac, LBH Jateng dan LSM Obyektif. Penyuluhan hukum dengan materi Kriominalisasi dalam masalah penempatan TKI ke luar negeri, disampaikan Yunita Fiedha SH MH dari LBH Jateng.

Muntohar minta supaya PPTKI harus bisa melayani masyarakat sebaik-baiknya. Sehingga calon TKI tidak merasa tertipu dan tidak muncul kasus ketenagakerjaan di kemudian hari.

KRIMINALISASI TKI: Yunita Fiedha SH MH (LBH Jateng) menyoroti kriminalisasi masalah penempatan TKI ke luar negeri, di gedung pertemuan BLK Disnakertrans Wonosobo, kemarin. (Foto: SM/Sudarman)
KRIMINALISASI TKI: Yunita Fiedha SH MH (LBH Jateng) menyoroti kriminalisasi masalah penempatan TKI ke luar negeri, di gedung pertemuan BLK Disnakertrans Wonosobo, kemarin. (Foto: SM/Sudarman)


Dia menyambut baik acara penyuluhan hukum tersebut, karena kasus-kasus ketenagakerjaan di luar negeri yang dialami TKI sangat perlu memperoleh bantuan hukum.

Drs Abdurahman MSi menyebut bahwa TKI adalah para pahlawan devisa. Saat ini mereka telah menyumbang devisa sebesar Rp 14 triliun. Dia katakan, ekonomi riel digerakan oleh TKI.

Namun demikian Abdurahman mengakui bahwa daya saing TKI masih kalah dibandingkan dengan tenaga kerja asal Bangladesh. Sehingga jika terjadi pengurangan tenaga kerja, maka yang di PHK lebih dahulu adalah TKI.

Untuk tahun 2009, lanjut Abdurahman, Jepang membutuhkan 290an TKI perawat asal Jateng. Para perawat tersebut minimal berijazah D3. Selain menjadi perawat, sebagian diantaranya juga ditugaskan sebagai perawat orang tua/jompo di negeri matahari terbit tersebut.Ketua DPD Asosiasi jasa penempatan Asia Pasifik (ASjaspac) Jateng, M Yunus mengatakan, saat ini di Indonesia terdapat enam asosisasi PPTKI swasta.

Untuk Jateng tercatat dua asosiasi dengan 18 PPTKIS pusat dan 510 PPTKIS cabang. Adapun TKI Jateng yang disalurkan ke luar negeri mencapai 3.000 sampai 3.500 tenaga kerja/bulan.(SM)

Nara sumber: Wonosobo Cyber Community

Selengkapnya...

Rute Ke Wonosobo

perjalan Ke Wonosobo


Dengan kondisi alam yang sedemikian rupa, satau-satunya jenis angkutan untuk menuju Wonosobo hanyalah angkutan darat. Dahulu pernah ada kereta api jurusan Purwokerto, sekarang hanya tinggal rel-nya. Meskipun demikian, transportasi ke dan dari Wonosobo relatif ramai. Transporatsi dari luar kota dapat anda pilih, bis atau jenis travel. Namun banyak juga yang mencarter taxi dari Semarang atau Yogyakarta.

Dari Semarang (Ibu kota Provinsi),Di terminal antar kota Terboyo banyak terdapat bis yang melayani trayek Semarang - Purwokerto melalui Wonosobo. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Rutenya adalah :

(Semarang-Ungaran-Bawen-Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)



Dari Surakarta (Solo)

Walaupun tidak banyak bis langsung dari Solo ke Wonosobo namun ada beberapa perusahaan bis yang melayani trayek ini. Anda dapat mendapatkan bis tersebut di terminal Tirtonadi jurusan Solo-Purwokerto via Wonosobo. Jaraknya sekitar 180 km waktu tempuhnya kita-kira 6 jam. Jalurnya adalah :

(Solo-Kartasura) - (Boyolali-Ampel) - (Salatiga-Bawen- Ambarawa) - (Secang-Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)

Dari Magelang

Jalur dari Magelang ini merupapakan jalur ke Wonosobo yang ramai. Kira-kira sepuluh menit sekali ada bis yang datang dan pergi. Bis terakhir kira-kira jam 19.00 berangkat dari terminal antar kota Magelang. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh kira-kira 2 jam. Jalurnya adalah :

(Magelang-Secang) - (Temanggung-Parakan) - (Kertek-Wonosobo)

Disamping itu, ada rute alternatif ke Wonosobo dari Magelang ini, terutama untuk mempersingkat jalan dari Borobudur-Wonosobo. Ada trayek micro bis langsung dari Magelang ke Wonosobo namun tidak sampai di kota Wonosobo, melainkan hanya sampai di Sapuran, salah satu Kecamatan di Wonosobo. Dari Sapuran ke Wonosobo jaraknya 18 km dan banyak sekali angkutan yang siap melayani anda. Jalur Borobudur-Wonosobo ini sering dijadikan alternatif travel Borobudur - Wonosobo.

Dari Purworejo

Jalur dari purworejo tidak terlalu ramai, baik ramainya kendaraan maupun pemukiman. Jalannya cukup baik namun berbelak-belok cukup tajam dan menanjak. Tidak ada bis besar yang melayani trayek ini, tetapi banyak micro bis yang beroperasi. Sejak terminal Purworejo pindah ke terminal baru, bis jurusan Wonosobo tidak masuk di terminal antar kota Purworejo. Micro bis jurusan Wonosobo biasanya mangkal di terminal lama atau di Purworejo Plaza. Jika anda dari arah Yogyakarta, silahkan turun di pertigaan Don Bosko, naik angkota dan turun di terminal lama atau di komplek Purworejo Plaza. Jarak Purworejo-Wonosobo sekitar 50 km dan waktu tempuh sekitar 2 jam. Jalurnya adalah :

(Purworejo-Loano) - (Kepil-Sapuran-Kalikajar-Kertek-Wonosobo)

Jika anda naik kendaraan pribadi, harap hati-hati sebab jalur ini walaupun agak sempit, banyak truk yang biasanya mengangkut kayu.

Dari Yogyakarta

Tidak ada trayek langsung dari Yogyakarta ke Wonosobo. Namun karena jalur Yogyakarta - Magelang - Semarang sangat ramai, dengan sendirinya dari Yogyakarta ke Wonosobo menjadi sangat mudah. Dari terminal Umbulharjo, atau dari terminal Jombor, naik bis jurusan Magelang dan turun di terminal antar kota Magelang, baru ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dan waktu tempuh kira-kira 3.5 jam. Jalurnya adalah :

(Yogyakarta-Sleman-Tempel) - (Muntilan-Magelang)

Selanjutnya ikuti jalur dari Magelang.

Dari Yogyakarta ke Wonosobo, disamping lewat Magelang, anda juga dapat lewat jalur Purworejo. Dari Terminal Umbulharjo atau Nggamping, naik bis jurusan Purworejo dan baru melanjutkan ke Wonosobo. Total jarak sekitar 120 km dengan waktu tempuh sekitar 3.5 jam. Rutenya adalah :

(Yogyakarta-Sentolo-Wates) - (Purworejo). Selanjutnya ikuti jalur dari Purworejo


Dari Purwokerto

Merupakan jalur yang ramai. Ada banyak bis yang melayani trayek ini. Untuk jalur ini, kira-kira setiap sepuluh menit ada bis yang datang dan pergi. Ada bis yang hanya melayani trayek Purwokerto-Wonosobo dan ada trayek Purwokerto-Semarang lewat Wonosobo. Anda bisa mendapatkan bis jurusan Wonosobo di terminal utama Purwokerto. Jaraknya sekitar 120 km dan waktu tempuh sekitar 3 jam. Jalurnya sebagai berikut:

(Purwokerto-Sokaraja) - (Purbalingga-Bukateja) - (Klampok-Banjarnegara) - (Selomerto-Wonosobo)

Dari Kebumen Meskipun masih langka, sebenarnya ada jalur langsung Wonosobo-Kebumen. Jalurnya berbelok-belok dan naik turun. Anda dapat mendapatkan bis jurusan Wonosobo-Kebumen di terminal antar kota Wonosobo namun hanya beberapa buah saja. Jaraknya sekitar 65 km dengan waktu tempuh sekitar 2.5 jam. Jalurnya sebagai berikut :

(Kebumen) - (Wadaslintang-Kaliwiro-Selomerto-Wonosobo)

Dari Jabodetabek

Trayek Jabotabek Wonosobo dilayani oleh banyak armada yang terdiri dari berbagai perusahaan oto bis. Anda bisa mendapatkan bis tersebut di terminal: Pl Gadung, Kp Rambutan, Bekasi, Lebak Bulus, Cimone, Merak dan Bogor. Dengan jarak 520 km, dari sekitar wilayah Jakarta, bis biasanya berangkat sekitar pukul 17 wib dan sampai di Wonosobo menjelang fajar. yang sering saya taikin sich always sinar jaya.

Selengkapnya...

Wisata wonosobo

Kawasan Rekreasi dan Olahraga Kalianget


Merupakan lokasi pemandian Air Panas Alami. Airnya mengandung Asam Sulfat yang cukup tinggi yang berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit kulit. Tempatnya terletak di Jalan Dieng kilometer 3 atau penyakit kulit. Tempatnya terletak di Jalan Dieng kilometer 3 atau sebelah utara kota Wonosobo. Dengan fasilitas lapangan tennis, kolam pemancingan, kolam renang, taman bermain dan stadion Sepakbola.



Gelanggang Renang Mangli


Merupakan pemandian alam dengan air yang melimpah ruah dan sangat jernih. Kata Mangli sendiri berasal dari kata “ Semang “ dan “ Ngili “ yang diambil dari kalimat “ Arep Adus bae semang Ngili “ ( Mau mandi saja harus kelembah mata air ) yang diucapkan dengan sendau gurau oleh Ki Tunteng ( tokoh yang sangat disegani pada masa itu ). Mangli terletak di Kelurahan Kejiwan 1 km dari sebelah barat kota Wonosobo.





Candi Arjuna
Kelompok candi ini terdiri dari lima candi tersusun dalam dua deret, deret di sebelah timur terdiri dari empat bangunan candi yang semuanya menghadap ke barat candi Arjuna, candi Srikandi, candi Puntadewa dan candi Sembadra. Deret sebelah barat menghadap ke timur yaitu candi Semar yang berhadapan dengan candi Arjuna.

Masing-masing candi memiliki ciri khas dan keindahan tersendiri, dan dibangun tidak bersamaan dengan tujuan untuk bermeditasi.

Pada candi-candi ini selalu digambarkan dewa-dewa pendamping utama Siwa, kecuali pada candi yang istimewa yaitu candi Srikandi yang digambarkan pada relung-relung semu adalah dewa-dewa utama agama Hindu yaitu Brahma, Siwa dan Wisnu.

Candi Gatotkaca
Candi ini terletak di sebelah barat kelompok Candi Arjuna di kaki bukit Pangonan menghadap ke barat, dahulu kala di lokasi ini terdapat enam bangunan candi yaitu candi Gatutkaca, candi Sentyaki, candi Antareja, candi Nakula - Sadewa dan candi Nalagareng, karena proses alam hanya candi Gatutkaca yang mampu bertahan hingga saat ini.

Melihat dari segi arsitekturnya candi Gatutkaca dibangun setelah candi Srikandi, hal ini diketahui dari cara penempatan tangga kaki, jumlah relung, denah bangunan dan denah atap tingkatnya.

Candi Gatutkaca memiliki kala makara yang khas yaitu berupa wajah raksasa yang menyeringai tanpa rahang bawah.


Candi Bima
Candi terletak di sebelah selatan candi Gatutkaca kurang lebih satu kilometer, dahulu diperkirakan terdapat beberapa candi namun karena proses alam, hanya candi Bima yang mampu bertahan, mempunyai tipe berbeda dengan candi-candi lain di Dieng dan diperkirakan dibangun setelah candi Srikandi.

Candi Bima menghadap ke timur dengan denah candi berbentuk palang, yang menarik dari candi ini adalah pada bagian atapnya yang sangat mirip bentuk shikara dan berbentuk seperti mangkuk yang ditangkupkan, selain itu pada bidang-bidang tingkatnya dihiasi dengan relung-relung yang melengkung dengan kepala tokoh dewa di dalamnya atau kudu.


Candi Dwarawati
Candi Dwarawati terletak paling timur di antara candi-candi di dataran tinggi Dieng, didirikan di bukit Perahu.
Di lokasi ini dahulu ada dua buah candi yaitu candi Dwarawati dan Parikesit, ketika ditemukan keduanya telah runtuh berserakan, dan diperbaiki pada tahun 1955 dan candi Dwarawati direstorasi pada tahun 1980, telah banyak dikunjungi wisatawan



BY:wonosobo cyber community.www.e-Wonosobo.com



Selengkapnya...

Khas Wonosobo

Mie Ongklok


Makanan khas Wonosobo adalah mie ongklok. Masakan spesifik ini terasa lebih nikmat bila dimakan panas-panas. Bahannya terdiri dari mie, kobis dan kucai yang dimasak setengah matang dengan cara dimasukkan dalam air mendidih dengan serok cekung yang terbuat dari bambu dan dinaik turunkan atau diongklok. Dapat dibeli pada penjual angkringan atau warung di Jl. Pasukan Ronggolawe, Jl. Tosari, serta di Jl. A.Yani (Sebelah selatan klenteng).



Mie Ongklok (Mie Kuah Udang)



Bahan:
750 gram udang, kupas kulit, kepala dan ekornya, sisihkan
1.5 liter air
2 batang seledri, cincang kasar
2 batang daun bawang, cincang kasar
2 sdm kecap manis
250 gram mie basah, seduh air panas, siram air dingin
150 gram kol, iris tipis, rebus sampai setengah layu
4 sdm tepung kanji, larutkan dalam 4 sdm air
3 sdm minyak untuk menumis

Bumbu, haluskan:
8 butir bawang merah
5 siung bawang putih
1 sdt jahe cincang
3 butir kemiri, sangrai
2 sdm tongcai (di Asian Grocery, cari yang namanya tianjun vegetables)
3 sdm ebi
2 sdm garam
3 sdm gula pasir
1 sdt merica bubukBahan Pelengkap:
Telor rebus
Daun bawang, iris tipis
Seledri, iris halus
Cabe rawit, rajang kasar
Bawang goreng untuk taburan
Jeruk nipis
Kecap manis sesuai selera

Cara Membuat:
1. Cincang daging udang, sisihkan.
2. Panaskan minyak lalu tumis bumbu halus beserta kulit, kepala dan ekor udang sampai berubah warna.
3. Tambahkan air lalu masak dengan api kecil selama 20 menitan sampai kuah keruh.
4. Saring kuah lalu panaskan kembali di atas api.
5. Masukkan udang dan kecap manis. Masak sampai udang berubah warna.
6. Tambahkan larutan tepung kanji, aduk sampai kuah mengental.
7. Penyajian: Atur mie basah, kol dan telor rebus pada mangkok. Siram dengan kuah lalu beru bahan pelengkap lainnya.Untuk 6 porsi



Carica Dieng

Merupakan family dari caria papaya yang kita kenal buahnya enak dimakan bila sudah masak, bijinya berwarna hitam dan tidak enak dimakan (pahit) Jenis Carica Dieng ini walaupun sama pohonnya, daunnya agak lebih tebal, buahnya lebih kecil dan kalau masak warnanya kekuning-kuningan serta beraroma wangi (khas). Apabila akan dimakan langsung, bukan buahnya, melainkan bijinya yang berwarna putih dan rasanya asam manis dengan aroma khas, yang tak terdapat pada buah lain.

Daging buahnya sangat enak bila dibuat manisan. Carica sekarang diproduksi secara home industry, dikemas dalam botol dan terkenal dengan nama “Carica Dieng”. Tanaman ini memerlukan ketinggian antara 1800-2200 m.dpl. untuk mendapatkan kualitas buah yang baik. Jenis ini berasal dari Amerika Latin, ditanam/ dikembangkan di Dieng oleh orang Belanda (Ir. Krammers) sekitar tahun 1900. Tanaman ini, seperti halnya Purwaceng, belum dibudidayakan secara maksimal dan hanya merupakan tanaman selingan di ladang petani.


Wasabi ( Jahe Dieng )

Tanaman ini dimanfaatkan serta dikonsumsi seluruh tanamannya :
- Daun : untuk masakan
- Batang : Untuk acar
- Akar : sebagai penghangat badan Penanaman wasabi diusahakan oleh PT.YUASA di areal ± 80 ha, diexport k Jepang. Selain itu juga ditanam jenis bayam, yaitu bayam Jepang.

Kacang Dieng ( Kacang Babi )

Kacang ini pohonnya tegak ± 1 m, dan tumbuh mirip buncis yang berisi 3 sampai 4 biji. Biji kacang dijemur/ dikeringkan biasanya di atas atap rumah. Keping biji mirip bentuk babi (bulat lonjong) dan sejak dahulu disebut kacang babi karena bentuknya, dan juga banyak hama babi hutan menyerang ladang petani dan merusak. Akan tetapi, tanaman kacang ini tidak dirusak/ diganggu (babi hutan tidak suka). Itu pula sebabnya disebut kacang babi. Hasil kacang digoreng dan dikemas (home industry), dengan nama “Kacang Dieng” yang terkenal.

Purwaceng

Alkisah dahulu kala beberapa orang petani terhenti mengerjakan ladang garapannya dikarenakan hujan turun dan hawa sangat dingin. Mereka berteduh di bawah lekukan batu besar yang bagaikan atap yang menaungi mereka. Akan tetapi, dinginnya udara saat itu tidak terelakan. Oleh karena itu, para petani mulai iseng, ada yang menggerak-gerakkan badannya, ada yang mendekat ke dinding batu, ada juga yang sambil mengunyah batang rumput-rumputan. Tidak sengaja, saat seorang petani menggigit salah satu jenis batang rumput yang daunnya lain dari rumput biasannya, ia merasakan reaksi badannya menjadi hangat sehingga teman-temannya yang lainpun ikut mencoba-coba. Ternyata benar, mereka kemudian dapat mengatasi rasa dingin di sekitarnya. Kehangatan tubuh yang mereka rasakan itu tersimpan sampai malam/ subuh, bahkan hingga saat “tugas malam” ternyata juga masih menimbulkan reaksi yang menakjubkan.

Kejadian itu kemudian menjadi buah bibir dimasyarakat, serta merta mereka menjuluki rumput berkhasiat tersebut dengan nama PURWACENG, yang berarti Purwa = ter dan Ceng = tegang. Setelah diadakan penelitian ilmiah, ternyata jenis tanaman perwaceng ini sejenis dengan tanaman ginseng yang tumbuh di Korea dan Cina, dengan nama latin Pimpinella Fruacan. Dari tanaman ini pula dapat dibuat sebuah ramuan dan minuman yang dicampur dengan kopi atau kapulaga, berguna sebagai penghangat badan.

BY:wonosobo cyber community.www.e-wonosobo.com



Selengkapnya...

blackisnotalwaysdark © 2008. Design by :Black Andrian Sponsored by: andri.jgc30